Minggu, 01 November 2015

SETITIK KECEROBOHAN HILANG NYAWA MELAYANG



“Jejeeee!!!”, sontak aku terbangun dari ranjang tempat tidurku dengan nafas terengah-engah serta detak jantung yang tiada hentinya berdegup kenjang seolah ingin berlari. Aku tak pernah mampu menghilangkan ingatan itu, ingatan akan seorang gadis yang sangat aku cintai, Jeje. Bayangan itu masih ada, berlarian dalam otakku. Kejadian hari itu, awal dimana aku terus menerus mendapatkan mimpi-mimpi ini, mimpi buruk akan Jeje.

Sebulan yang lalu…

Hari itu aku berencana menikmati waktu luangku bersama Jeje. Setelah melalui cukup penatnya aktivitas kerja di kantor, kami sepakat memutuskan untuk pergi ke puncak. Tempat dimana kami dapat menemukan kesejukan nuansa alam setelah padatnya aktivitas yang melanda. Saat itu pukul 06.00 WIB, setelah packing kami langsung berangkat menuju puncak. Aku memutuskan untuk mengendarai sepeda motor karena untuk menghindari kemacetan kota yang sering terjadi saat musim weekend seperti ini. Tak luput pula, aku dan Jeje mengenakan perlengkapan lengkap standar mengendarai sepeda motor pada umumnya. Aku memeriksa setiap bagian motorku yang kurasa sudah cukup aman untuk memulai perjalan.

“Udah siap semuanya?”,tanya Jeje sambil menepuk bahuku dari belakang.

“Yap, are you ready?”, jawabku sembari memasangkan helm kepadanya.

“Tentu saja. Eh, apa kita perlu ke bengkel dulu? Sepertinya ban motormu terlihat menipis?”, katanya sambil menunjuk ban motorku.

“Ahh, tak perlu, itu tak akan jadi masalah untuk perjalanan. Yaudah yuk berangkat!”,ajakku sembari menarik lengannya untuk naik ke atas motor.

“Baiklah, let’s go!”, teriaknya nyaing penuh keceriaan.

Akhirnya kami memulai perjalan kami. Perjalanan menuju puncak memerlukan waktu kurang lebih 7 jam dari pusat kota. Selama perjalanan, Jeje tak henti-hentinya meminta untuk beristirat karena dia cukup kelelahan duduk di motor setelah beberapa hari sebelumnya dia menjalankan beberapa pekerjaan yang sangat menguras tenaganya di kantor. Akhirnya akupun menurutinya untuk beristirahat sejenak sembari merenggangkan otot-otot. Selang beberapa saat, tiba-tiba Jeje mengeluhkan ban motorku lagi yang sudah terlihat menipis itu.

“Ke bengkel dulu yuk, ganti ban kamu itu udah tipis banget, nanti kalo ada apa-apa gimana?”, rengeknya kembali sambil menarik-narik bajuku bak macam anak kecil yang meminta permen.

“Ahh, kamu parno banget sih, aku setiap hari naik itu motor nggak kenapa-kenapa juga.”

“Tapi apa salahnya kalo kita antisipasi akan hal ini?”

“Ah, sudahlah kamu brisik banget sih masalahin ban motor, kita ini mau senang-senang, mau refreshing.”, jawabku sedikit emosi kepadanya.

“Iya maaf kalo gitu.”, akhirnya dia menyerah juga mengingatkanku akan ban motor.

Kemudian kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan yang harus kami tempuh masih cukup jauh, kurang lebih 3 jam lagi. Selama perjalanan Jeje hanya terdiam tak berbicara sedikitpun, tidak seperti biasanya yang cukup bawel dan berisik kepadaku. Untuk meredakan keheningan akhirnya aku meminta Jeje untuk mengmainkan sebuah lagu di handphone dan menyanyikan bersama-sama seperti biasanya. Namun, di luar dugaan Jeje menolaknya dan mengatakan bahwa akan cukup berbahaya memainkan musik saat sedang mengendarai sepeda motor. Aku sangat heran ada apa dengan dia hari ini? Mulai dari meributkan ban motor yang bahkan biasanya dia tidak peduli, hingga tidak mau  memainkan musik yang bahakan biasanya dia akan bernyanyi sepanjang jalan tanpa henti. Akhirnya tanpa banyak bicara pun aku terus melanjutkan perjalanan dengan suasana yang sangat hening. Hingga akhirnya aku tak tahan lagi akan sikap Jeje yang hanya diam tak mau berbicara sedikitpun kepadaku. Aku melaju kendaraanku dengan kecepatan yang cukup tinggi, sontak Jeje terkejut dan hampir jatuh. Namun anehnya dia hanya diam tak berbicara apa-apa sembari mengencangkan pegangannya di pinggangku lebih erat. Aku pun merasa bersalah pada Jeje.

“Maafin aku Je.” Kataku sambil melaju kendaranku lebih pelan.

“Hati-hati.” Jawabnya singkat tanpa menanggapi permintaan maafku.

            Perjalan terasa semakin hening, Jeje hanya terus terdiam. Mungkin dia marah padaku, akhirnya ku putuskan untuk beristirahat dan makan dahulu. Perjalanan masih kurang lebih satu jam lagi harus ditempuh. Saat memesan makanan di sebuat cafe kecil sambil beristirahat, Jeje tidak mau memesan apapun. Lalu aku hilang kesabaranku terhadap sikapnya yang seperti anak kecil ini.

“Kamu kenapa sih? Di ajak ngomong nggak jawab, diajak makan nggak mau pesan. Kamu marah sama aku?”, sentakku dengan nada tinggi pada Jeje. Namun Jeje hanya menggelengkan kepalanya tanpa sepatah katapun. “Kamu bisu?”, emosiku semakin menjadi. Kuangkat wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk tanpa menatapku. “Jangan kayak anak kecil deh. Cuma gara-gara ban motor aja ngambek kaya gini.” Dan sekali lagi dia hanya terdiam. “Kamu tuh nggak usah parno mikir yang macem-macem, nggak bakal ada apa-apa, tiap hari aku make motor itu dan kamu lihatkan aku baik-baik aja.” Emosiku semakin menjadi-jadi. Kulihat air mata mengalir di wajahnya, aku pun sudah tak sabar lagi. Kemudian ku tarik tangannya meninggalkan café itu tanpa sempat makan apapun, dan melanjutkan kembali perjalanan kami.

Aku melaju kendaraanku lebih kencang dari sebelumnya. Aku terus melaju menerobos jalanan yang cukup padat penuh kendaraan hari itu. Hingga sampai di suatu persimpangan jalan hampir sampai ke puncak, dengan kecepatan yang sangat tinggi, tiba-tiba di luar dugaanku, ban motorku tiba-tiba pecah, aku hilang kendali, motorku tak dapat kuhentikan dan sesaat muncul sebuah truk beras dari arah yang berlawanan melaju cukup kencang pula, aku sangat ketakutan, dan ku genggam tanggan Jeje erat. “Bruuukkkk…!!!”, truk itu menghantam motorku sangat keras. Tangan Jeje terlepas dari genggamanku, dengan menyisakan darah segar yang terus bercucuran. Kucium aroma tanah penuh darah, aku tergeletak tak berdya, aku ingin berlari menuju Jeje yang tubuhnya terpental jauh di depanku. Dengan pandangan yang samar kulihat wajah cantik Jeje berlumuran darah serta tubuhnya yang penuh luka. Aku tak mampu menggapainya, hingga kemudian segalanya menjadi gelap. Sangat gelap.

“Alhamdulillah.”, kudengar seseorang mengucapkan kalimat syukur di sampingku. Ku buka mataku secara perlahan, kulihat cahaya yang sangat silau dan perlahan semakin jelas. Aku sempat kebingungan akan keberadaanku. Kepalaku terasa berat, tangan, kaki serta tubuhku sangat kaku dan sukar untuk ku gerakkan. Kulihat ibuku di sampingku sambil menangis ia terus menciumi wajahku dan terus mengucapkan puji syukur kepada Tuhan. Sontak aku kemudian tersadar dimana aku. “Jeje.” Tanpa pikir pajang aku langsung bangun dan mencari Jeje. Ku cari di setiap sudut ruangan rumah sakit ini. Namun tak ku temukan sosok manis itu. Kulihat ibuku berlari-lari dengan terengah-engah menuju ke arahku.

“Ren, kamu tidak akan menemukan Jeje di sini nak. Dia tidak ada di sini.”, kata ibu sambil menarik tanganku memberikan sebuah handphone milik Jeje kepadaku. “Jeje meninggal bebrapa jam setelah kecelakaan itu, dia mengalami pendarahan yang sangat parah. keadaannya sangat kritis, begitu juga denganmu. Dokter berpikir sudah tak ada harapan bagi kalian berdua. Namun, di luar dugaan kondisimu mulai ada harapan, sedangkan Jeje tidak bisa bertahan lagi.” Mendengar hal itu hatiku remuk, tak henti-hentinya aku menyalahkan diriku sendiri. Andaikan saja ku dengarkan perkataan Jeje waktu itu.

“Jee…maafkan aku.”, tangisku semakin menjadi ketika ku buka layar ponsel Jeje. Kulihat fotoku dengannya. Wajah manis Jeje yang tersenyum riang melihatku. Foto yang kami ambil sebelum melakukan perjalanan maut itu.

            Sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi mengendarai motorku, perasaan trauma yang sangat besar benar-benar aku rasakan. Aku juga tak pernah lagi berkumpul dengan club motor yang biasa aku ikuti, untuk beberapa waktu aku hanya berada di rumah tanpa ingin pergi kemanapun. Terlebih sosok Jeje yang selalu datang tiap malam dalam mimpiku membuatku sulit melupakan kejadian itu. Hari-hariku selau dipenuhi rasa bersalah akan Jeje.

Suatu ketika aku menyadari aku tak bisa berlarut-larut untuk seperti ini. Aku mulai memberanikan diri kembali dengan aktifitasku. Awalnya berjalan sangat baik dan normal seperti biasanya, walaupun aku belum berani lagi mengendarai motorku lagi. Namun ternyata segalanya tidak berjalan dengan mudah, aku begitu terganggu tiap kali menatap jalanan, dengan kendaraan serta bunyi klakson yang terus bordering. Aku hampir gila saat-saat seperti itu. Pekerjaanku di kantor pun kacau, tidak terselesaikan dengan baik, dan pihak perusahaan akhirnya memilih mengeluarkan aku. Anehnya aku sama sekali tidak merasakan kesedihan dari kehilangan pekerjaanku. Aku merasa ada sesuatu yang melegakan dalam hatiku.

Hari itu setelah menerima honor terakhirku, aku memutuskan untuk mengunjungi Jeje. Dalam perjalanan, aku mampir ke took bunga untuk membeli beberapa mawar kesuskaan Jeje. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk punggungku. Ternyata Verrel teman club motorku.

“Hei Ren, apa kabar kau lama tak jumpa.”, sapa Verrel dengan logat melayunya.

“Seperti yang kamu lihat.”, jawabku sembari menyunggingkan senyum padanya.

“Apa kau sakit? Kau terlihat sangat buruk. Oh yaa, lusa kita akan touring ke Joga. Kau harus ikut, oke”, ajak Verrel.

“Maaf aku tidak akan lagi mengendarai motor.”, jawabku dengan penuh keyakinan.

“Hmm…sudahlah jangan diingat lagi, itu hanya akan menyiksamu sendiri Ren. Lihat, Tuhan masih menyelamatkanmu, itu artinya kau diberikan kesempatan untuk memperbaiki, bukan untuk lari Ren.” Varrel terus membujukku. “Ku pikirkan lagi. Aku duluan ya. Bye.”, aku bergegas pergi meninggalkan Verrel sendiri yang terus menatapku.

Sesampai dipemakaman umum, air mataku kembali mengalir. Aku sama sekali tak menyangka bahwa nama gadis itu terukir di batu nisan ini. “Hallo Je.”, sapaku memulai pembicaraan. “Apa kabar Je? Rasanya udah lama nggak ketemu ya Je? Oh ya, maaf aku hanya bisa membawakan bunga mawar ini padamu.”, aku terus berbicara walaupun aku tau Jeje tak akan menjawab apapun. “Je, maafkan aku. Kamu menjadi korban atas keegoisan dan keangkuhanku. Aku harusnya dengarkan mu, hehe.”, tanpa sadar air mata mengalir lagi di wajahku. “Aku tidak tau mengapa aku begitu bodohnya saat itu, begitu sombong atas diriku ini. Harusnya aku Je yang berbaring di sini, bukan kamu. Maafkan aku Je.”, sembari menyeka air mataku, kutaburkan beberapa taburan bunga mawar serta menyirami makam Jeje. “Je, aku hampi kehilangan akalku, aku selalu berharap kamu akan memaafkanku. Aku berjanji, aku tak akan lagi begitu angkuh dan mengacuhkan peringatan Tuhan. Aku akan lebih hati-hati Je, sesuai permintanmu. Kamu harus bahagia ya Je. Aku menyayangimu.”, kucium nisan Jeje, dan kutatap untuk yang terkahir kalinya sebelum aku pergi.

Malam harinya, aku memberanikan diriku menuju garasi motorku. Kulihat di sana masih tersimpan rapi, dengan kondisi motor yang masih sama saat kecelakaan hari itu. Awalnya aku begitu ketakutan, aku benar-benar takut untuk menyentuhnya. Namun, aku terus memberanikan diriku, seperti ada Jeje ketika memberikan semangat padaku. Perlahan mulai ku sentuh motor itu, mulai kuperbaiki setiap bagian yang hancur akan kenangan itu. Dan akhirnya aku mampu menyelesaikannya. Motor kenanganku bersama Jeje. “Je, apa kamu siap?”, sekali lagi aku berbicara sendiri seolah ada Jeje yang kuajak bicara. Ku nyalakan mesin, perlahan mulai kunaiki. Tangan kakiku mulai bergetar, semakin rasanya aku ingin memulainya. Kutarik gas dengan lembut “Bruumm…”, suara yang nyaring ini mengajakku untuk segera melajukan kendaraan. Namun, tiba-tiba aku terhenti, kumatikan mesin motor itu. Untuk memastikan kondisinya apakan akan benar-benar aman untuk ku kendarai.

Untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Aku selalu memastikan pada diriku sendiri bahwa aku sudah benar-benar siap untuk memulainya lagi. Tanpa mengacuhkan akan hal-hal yang ku anggap sepele. Seperti mulai dari memeriksa seluruh kelayakan kondisi kendaran, keadaan fisik dan emosional pribadi untuk mengendarai, serta perlengkapan standar mengendarai sepeda motor. Tak luput pula mematuhi peraturan lalu lintas dan menghormati pengendara lain. Aku harus sadar bahwa yang utama adalah sebuah keselamatan, tak hanya bagi keselamatanku, namun juga bagi keselamatan orang lain. Tak hanya kehati-hatian dan kewaspadaan dalam mengendarai kendaraan namun juga harus disertai doa dalam perjalanku. Karena bahkan walaupun nantinya aku  sudah berhati-hati namun dengan adanya kecerobohanku akan merugikan orang lain pula. Seperti halnya atas kecerobohanku, aku telah mengakibatkan Jeje meninggal.

Pada hakekatnya kematian adalah takdir Tuhan, namun sebagai manusia yang mencintai Tuhan aku harus pula menjaga diri sebagai bentuk rasa syukur atas karunia-Nya.



~end~

   





NB: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menilis Cerpen "Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan." #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com




0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda