SETITIK KECEROBOHAN HILANG NYAWA MELAYANG
“Jejeeee!!!”, sontak aku
terbangun dari ranjang tempat tidurku dengan nafas terengah-engah serta detak
jantung yang tiada hentinya berdegup kenjang seolah ingin berlari. Aku tak
pernah mampu menghilangkan ingatan itu, ingatan akan seorang gadis yang sangat
aku cintai, Jeje. Bayangan itu masih ada, berlarian dalam otakku. Kejadian hari
itu, awal dimana aku terus menerus mendapatkan mimpi-mimpi ini, mimpi buruk
akan Jeje.
Sebulan yang lalu…
Hari itu aku berencana
menikmati waktu luangku bersama Jeje. Setelah melalui cukup penatnya aktivitas
kerja di kantor, kami sepakat memutuskan untuk pergi ke puncak. Tempat dimana
kami dapat menemukan kesejukan nuansa alam setelah padatnya aktivitas yang
melanda. Saat itu pukul 06.00 WIB, setelah packing kami langsung berangkat
menuju puncak. Aku memutuskan untuk mengendarai sepeda motor karena untuk
menghindari kemacetan kota yang sering terjadi saat musim weekend seperti ini.
Tak luput pula, aku dan Jeje mengenakan perlengkapan lengkap standar
mengendarai sepeda motor pada umumnya. Aku memeriksa setiap bagian motorku yang
kurasa sudah cukup aman untuk memulai perjalan.
“Udah siap semuanya?”,tanya Jeje
sambil menepuk bahuku dari belakang.
“Yap, are you ready?”, jawabku
sembari memasangkan helm kepadanya.
“Tentu saja. Eh, apa kita perlu ke
bengkel dulu? Sepertinya ban motormu terlihat menipis?”, katanya sambil
menunjuk ban motorku.
“Ahh, tak perlu, itu tak akan jadi
masalah untuk perjalanan. Yaudah yuk berangkat!”,ajakku sembari menarik
lengannya untuk naik ke atas motor.
“Baiklah, let’s go!”, teriaknya
nyaing penuh keceriaan.
Akhirnya kami memulai perjalan kami. Perjalanan
menuju puncak memerlukan waktu kurang lebih 7 jam dari pusat kota. Selama
perjalanan, Jeje tak henti-hentinya meminta untuk beristirat karena dia cukup
kelelahan duduk di motor setelah beberapa hari sebelumnya dia menjalankan
beberapa pekerjaan yang sangat menguras tenaganya di kantor. Akhirnya akupun
menurutinya untuk beristirahat sejenak sembari merenggangkan otot-otot. Selang
beberapa saat, tiba-tiba Jeje mengeluhkan ban motorku lagi yang sudah terlihat
menipis itu.
“Ke bengkel dulu yuk, ganti ban kamu
itu udah tipis banget, nanti kalo ada apa-apa gimana?”, rengeknya kembali
sambil menarik-narik bajuku bak macam anak kecil yang meminta permen.
“Ahh, kamu parno banget sih, aku
setiap hari naik itu motor nggak kenapa-kenapa juga.”
“Tapi apa salahnya kalo kita
antisipasi akan hal ini?”
“Ah, sudahlah kamu brisik banget sih
masalahin ban motor, kita ini mau senang-senang, mau refreshing.”, jawabku
sedikit emosi kepadanya.
“Iya maaf kalo gitu.”, akhirnya dia
menyerah juga mengingatkanku akan ban motor.
Kemudian kami pun
memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan yang harus kami
tempuh masih cukup jauh, kurang lebih 3 jam lagi. Selama perjalanan Jeje hanya
terdiam tak berbicara sedikitpun, tidak seperti biasanya yang cukup bawel dan
berisik kepadaku. Untuk meredakan keheningan akhirnya aku meminta Jeje untuk
mengmainkan sebuah lagu di handphone dan menyanyikan bersama-sama seperti
biasanya. Namun, di luar dugaan Jeje menolaknya dan mengatakan bahwa akan cukup
berbahaya memainkan musik saat sedang mengendarai sepeda motor. Aku sangat
heran ada apa dengan dia hari ini? Mulai dari meributkan ban motor yang bahkan
biasanya dia tidak peduli, hingga tidak mau
memainkan musik yang bahakan biasanya dia akan bernyanyi sepanjang jalan
tanpa henti. Akhirnya tanpa banyak bicara pun aku terus melanjutkan perjalanan
dengan suasana yang sangat hening. Hingga akhirnya aku tak tahan lagi akan
sikap Jeje yang hanya diam tak mau berbicara sedikitpun kepadaku. Aku melaju
kendaraanku dengan kecepatan yang cukup tinggi, sontak Jeje terkejut dan hampir
jatuh. Namun anehnya dia hanya diam tak berbicara apa-apa sembari mengencangkan
pegangannya di pinggangku lebih erat. Aku pun merasa bersalah pada Jeje.
“Maafin aku Je.” Kataku sambil melaju
kendaranku lebih pelan.
“Hati-hati.” Jawabnya singkat tanpa
menanggapi permintaan maafku.
Perjalan
terasa semakin hening, Jeje hanya terus terdiam. Mungkin dia marah padaku,
akhirnya ku putuskan untuk beristirahat dan makan dahulu. Perjalanan masih
kurang lebih satu jam lagi harus ditempuh. Saat memesan makanan di sebuat cafe
kecil sambil beristirahat, Jeje tidak mau memesan apapun. Lalu aku hilang
kesabaranku terhadap sikapnya yang seperti anak kecil ini.
“Kamu kenapa sih? Di ajak
ngomong nggak jawab, diajak makan nggak mau pesan. Kamu marah sama aku?”,
sentakku dengan nada tinggi pada Jeje. Namun Jeje hanya menggelengkan kepalanya
tanpa sepatah katapun. “Kamu bisu?”, emosiku semakin menjadi. Kuangkat wajahnya
yang sedari tadi hanya menunduk tanpa menatapku. “Jangan kayak anak kecil deh.
Cuma gara-gara ban motor aja ngambek kaya gini.” Dan sekali lagi dia hanya
terdiam. “Kamu tuh nggak usah parno mikir yang macem-macem, nggak bakal ada
apa-apa, tiap hari aku make motor itu dan kamu lihatkan aku baik-baik aja.”
Emosiku semakin menjadi-jadi. Kulihat air mata mengalir di wajahnya, aku pun
sudah tak sabar lagi. Kemudian ku tarik tangannya meninggalkan café itu tanpa
sempat makan apapun, dan melanjutkan kembali perjalanan kami.
Aku melaju kendaraanku
lebih kencang dari sebelumnya. Aku terus melaju menerobos jalanan yang cukup
padat penuh kendaraan hari itu. Hingga sampai di suatu persimpangan jalan
hampir sampai ke puncak, dengan kecepatan yang sangat tinggi, tiba-tiba di luar
dugaanku, ban motorku tiba-tiba pecah, aku hilang kendali, motorku tak dapat
kuhentikan dan sesaat muncul sebuah truk beras dari arah yang berlawanan melaju
cukup kencang pula, aku sangat ketakutan, dan ku genggam tanggan Jeje erat.
“Bruuukkkk…!!!”, truk itu menghantam motorku sangat keras. Tangan Jeje terlepas
dari genggamanku, dengan menyisakan darah segar yang terus bercucuran. Kucium
aroma tanah penuh darah, aku tergeletak tak berdya, aku ingin berlari menuju
Jeje yang tubuhnya terpental jauh di depanku. Dengan pandangan yang samar
kulihat wajah cantik Jeje berlumuran darah serta tubuhnya yang penuh luka. Aku
tak mampu menggapainya, hingga kemudian segalanya menjadi gelap. Sangat gelap.
“Alhamdulillah.”,
kudengar seseorang mengucapkan kalimat syukur di sampingku. Ku buka mataku
secara perlahan, kulihat cahaya yang sangat silau dan perlahan semakin jelas.
Aku sempat kebingungan akan keberadaanku. Kepalaku terasa berat, tangan, kaki
serta tubuhku sangat kaku dan sukar untuk ku gerakkan. Kulihat ibuku di
sampingku sambil menangis ia terus menciumi wajahku dan terus mengucapkan puji
syukur kepada Tuhan. Sontak aku kemudian tersadar dimana aku. “Jeje.” Tanpa
pikir pajang aku langsung bangun dan mencari Jeje. Ku cari di setiap sudut ruangan
rumah sakit ini. Namun tak ku temukan sosok manis itu. Kulihat ibuku
berlari-lari dengan terengah-engah menuju ke arahku.
“Ren, kamu tidak akan menemukan Jeje
di sini nak. Dia tidak ada di sini.”, kata ibu sambil menarik tanganku
memberikan sebuah handphone milik Jeje kepadaku. “Jeje meninggal bebrapa jam
setelah kecelakaan itu, dia mengalami pendarahan yang sangat parah. keadaannya
sangat kritis, begitu juga denganmu. Dokter berpikir sudah tak ada harapan bagi
kalian berdua. Namun, di luar dugaan kondisimu mulai ada harapan, sedangkan
Jeje tidak bisa bertahan lagi.” Mendengar hal itu hatiku remuk, tak
henti-hentinya aku menyalahkan diriku sendiri. Andaikan saja ku dengarkan
perkataan Jeje waktu itu.
“Jee…maafkan aku.”, tangisku semakin
menjadi ketika ku buka layar ponsel Jeje. Kulihat fotoku dengannya. Wajah manis
Jeje yang tersenyum riang melihatku. Foto yang kami ambil sebelum melakukan
perjalanan maut itu.
Sejak
kejadian itu, aku tak pernah lagi mengendarai motorku, perasaan trauma yang
sangat besar benar-benar aku rasakan. Aku juga tak pernah lagi berkumpul dengan
club motor yang biasa aku ikuti, untuk beberapa waktu aku hanya berada di rumah
tanpa ingin pergi kemanapun. Terlebih sosok Jeje yang selalu datang tiap malam
dalam mimpiku membuatku sulit melupakan kejadian itu. Hari-hariku selau
dipenuhi rasa bersalah akan Jeje.
Suatu ketika aku
menyadari aku tak bisa berlarut-larut untuk seperti ini. Aku mulai memberanikan
diri kembali dengan aktifitasku. Awalnya berjalan sangat baik dan normal
seperti biasanya, walaupun aku belum berani lagi mengendarai motorku lagi.
Namun ternyata segalanya tidak berjalan dengan mudah, aku begitu terganggu tiap
kali menatap jalanan, dengan kendaraan serta bunyi klakson yang terus
bordering. Aku hampir gila saat-saat seperti itu. Pekerjaanku di kantor pun
kacau, tidak terselesaikan dengan baik, dan pihak perusahaan akhirnya memilih
mengeluarkan aku. Anehnya aku sama sekali tidak merasakan kesedihan dari
kehilangan pekerjaanku. Aku merasa ada sesuatu yang melegakan dalam hatiku.
Hari itu setelah menerima
honor terakhirku, aku memutuskan untuk mengunjungi Jeje. Dalam perjalanan, aku
mampir ke took bunga untuk membeli beberapa mawar kesuskaan Jeje. Tiba-tiba ada
seseorang yang menepuk punggungku. Ternyata Verrel teman club motorku.
“Hei Ren, apa kabar kau
lama tak jumpa.”, sapa Verrel dengan logat melayunya.
“Seperti yang kamu
lihat.”, jawabku sembari menyunggingkan senyum padanya.
“Apa kau sakit? Kau
terlihat sangat buruk. Oh yaa, lusa kita akan touring ke Joga. Kau harus ikut,
oke”, ajak Verrel.
“Maaf aku tidak akan lagi
mengendarai motor.”, jawabku dengan penuh keyakinan.
“Hmm…sudahlah jangan
diingat lagi, itu hanya akan menyiksamu sendiri Ren. Lihat, Tuhan masih
menyelamatkanmu, itu artinya kau diberikan kesempatan untuk memperbaiki, bukan
untuk lari Ren.” Varrel terus membujukku. “Ku pikirkan lagi. Aku duluan ya.
Bye.”, aku bergegas pergi meninggalkan Verrel sendiri yang terus menatapku.
Sesampai dipemakaman
umum, air mataku kembali mengalir. Aku sama sekali tak menyangka bahwa nama
gadis itu terukir di batu nisan ini. “Hallo Je.”, sapaku memulai pembicaraan.
“Apa kabar Je? Rasanya udah lama nggak ketemu ya Je? Oh ya, maaf aku hanya bisa
membawakan bunga mawar ini padamu.”, aku terus berbicara walaupun aku tau Jeje
tak akan menjawab apapun. “Je, maafkan aku. Kamu menjadi korban atas keegoisan
dan keangkuhanku. Aku harusnya dengarkan mu, hehe.”, tanpa sadar air mata
mengalir lagi di wajahku. “Aku tidak tau mengapa aku begitu bodohnya saat itu,
begitu sombong atas diriku ini. Harusnya aku Je yang berbaring di sini, bukan
kamu. Maafkan aku Je.”, sembari menyeka air mataku, kutaburkan beberapa taburan
bunga mawar serta menyirami makam Jeje. “Je, aku hampi kehilangan akalku, aku
selalu berharap kamu akan memaafkanku. Aku berjanji, aku tak akan lagi begitu
angkuh dan mengacuhkan peringatan Tuhan. Aku akan lebih hati-hati Je, sesuai
permintanmu. Kamu harus bahagia ya Je. Aku menyayangimu.”, kucium nisan Jeje,
dan kutatap untuk yang terkahir kalinya sebelum aku pergi.
Malam harinya, aku
memberanikan diriku menuju garasi motorku. Kulihat di sana masih tersimpan
rapi, dengan kondisi motor yang masih sama saat kecelakaan hari itu. Awalnya
aku begitu ketakutan, aku benar-benar takut untuk menyentuhnya. Namun, aku
terus memberanikan diriku, seperti ada Jeje ketika memberikan semangat padaku.
Perlahan mulai ku sentuh motor itu, mulai kuperbaiki setiap bagian yang hancur
akan kenangan itu. Dan akhirnya aku mampu menyelesaikannya. Motor kenanganku
bersama Jeje. “Je, apa kamu siap?”, sekali lagi aku berbicara sendiri seolah
ada Jeje yang kuajak bicara. Ku nyalakan mesin, perlahan mulai kunaiki. Tangan
kakiku mulai bergetar, semakin rasanya aku ingin memulainya. Kutarik gas dengan
lembut “Bruumm…”, suara yang nyaring ini mengajakku untuk segera melajukan
kendaraan. Namun, tiba-tiba aku terhenti, kumatikan mesin motor itu. Untuk
memastikan kondisinya apakan akan benar-benar aman untuk ku kendarai.
Untuk tidak mengulangi
kesalahan yang sama. Aku selalu memastikan pada diriku sendiri bahwa aku sudah
benar-benar siap untuk memulainya lagi. Tanpa mengacuhkan akan hal-hal yang ku
anggap sepele. Seperti mulai dari memeriksa seluruh kelayakan kondisi kendaran,
keadaan fisik dan emosional pribadi untuk mengendarai, serta perlengkapan
standar mengendarai sepeda motor. Tak luput pula mematuhi peraturan lalu lintas
dan menghormati pengendara lain. Aku harus sadar bahwa yang utama adalah sebuah
keselamatan, tak hanya bagi keselamatanku, namun juga bagi keselamatan orang
lain. Tak hanya kehati-hatian dan kewaspadaan dalam mengendarai kendaraan namun
juga harus disertai doa dalam perjalanku. Karena bahkan walaupun nantinya
aku sudah berhati-hati namun dengan
adanya kecerobohanku akan merugikan orang lain pula. Seperti halnya atas
kecerobohanku, aku telah mengakibatkan Jeje meninggal.
Pada hakekatnya kematian
adalah takdir Tuhan, namun sebagai manusia yang mencintai Tuhan aku harus pula
menjaga diri sebagai bentuk rasa syukur atas karunia-Nya.
~end~
NB: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menilis Cerpen "Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan." #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda