Jumat, 14 November 2014

Ketika Sang Surya Kembali Menyinarkan Rembulan

      Entah apapun itu aku hanya ingin duduk sendiri menikmati kepahitan yang kurasa. Betapa malunya aku ketika mendapati respon darimu seperti itu. Rasanya bagai tertiban sebuah barbel betapa berat dan mau ditaruh di mana muka ini. Ahhh, entahlah. Hari ini aku begitu bahagia dan gembira sekali, dipernankan oleh Tuhan untuk dapat bertemu dan memandangmu, seperti aku mendapat vitamin dari Tuhan. Alay banget yaa, namun memang beginilah perasaanku.

       Esok harinya ketika di kelas, aku sama sekali tak mampu memandang wajahnya, aku masih merasakan malu akan diriku yang bertindak tolol padanya beberapa hari yang lalu. Aku berusaha untuk stay cool di depannya, entah dia menyadari atau tidak, aku pun tak tahu. Hari itu berjalan dan berlalu begitu cepat, ingin sekali aku mengobrol dengannya, mengobrol penuh canda seperti biasa. Ahh, tapi ya sudahlah mungkin dia mulai ilfeel denganku. Namun tiba-tiba saja beberapa menit setelah aku berpikiran seperti itu, ku dengar suara memanggil namaku, dan taraaaaa, OMG aku kaget banget, ternyata adalah dia. Dengan senyuman khasnya dia menawarkan untuk pulang bersama, aku hanya melongo dan melongo. Apakah aku ini hanya bermimpi? Ku cubit pipiku, terasa begitu sakit, berarti ini adalah kenyataan. Aaaaaa betapa senangnya hatiku. Setelah sekian lama inilah yang selalu ku harapkan. Terima Kasih Tuhan.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda