Sabtu, 21 November 2015

UANG AKAN MUSNAH DAN CINTA AKAN SELALU ABADI


Cinta atau Uang?



Teng…teng…teng...
Terdengar suara denting jam dinding yang tepat menunjukkan pukul 9 malam. Aku masih terpaku dengan kesendirianku menikmati angin malam di teras luar rumahku. Sembari sesekali aku menatap pintu gerbang dan berharap orang tuaku datang. Malam semakin larut dan mereka tak kunjung pulang. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
“Non, sudah malam. Ayo masuk.” Ajak mbok Giyem sembari menarik lenganku untuk masuk. Aku hanya menurut sambil sesekali menatap pintu gerbang untuk yang terakhir kalinya. Berharap Papa dan Mama pulang.
Mbok Giyem, ya dialah satu-satunya teman yang aku punya di rumah ini, dari pagi hingga malam hingga pagi lagi, hanya mbok Giyem yang selalu aku liat setiap harinya. Papa dan Mama, entah apa yang membuat mereka terlalu bahagia mencari uang hingga tak menyisakan waktu sedikpun untukku. Aku hampir selalu mendapatkan apa yang aku mau tanpa aku harus menunggu lama, semuanya akan terkabulkan bahkan hanya dalam waktu beberapa menit saja. Namun, tidak untuk kasih sayang Papa dan Mama, hampir tak pernah ada waktu untuk bersama, mereka terlalu bahagia mencari uang hingga melupakanku. Hanya mbok Giyem, satu-satunya orang yang selalu menyisakan waktu untukku, setiap hari setiap waktu, hanya mbok Giyem yang ada.
Aku tau mengapa mereka seperti itu. Papa dan mamaku, dulunya kami bukanlah orang yang memiliki harta banyak, kami hidup dalam keluarga yang sangat sederhana. Papaku adalah seorang guru yang sangat dikagumi oleh murid-muridnya, aku bahkan selalu diajak main dengan mereka. Hingga pada suatu ketika, kami memutuskan untuk pindah ke pulau Jawa, tepatnya di Semarang. Saat itu aku melihat wajah mereka yang begitu bahagia, karena kami bisa tinggal dekat dengan saudara-saudara papa dan mama yang tinggal di Semarang. Namun tak disangka harapan mereka pupus, saat tiba di sana, tak satupun saudara papa menyukai keluarga kami. Di sana kami tinggal di rumah kakek sembari menunggu Papa mencari rumah baru. Kami sangat dibenci dan selalu diacuhkan.
Aku masih ingat saat aku ingin bermain dengan sepupuku yang seumuran denganku, tiba-tiba tanteku yang tepatnya adalah adik papaku mendorongku hingga jatuh. Sambil berkata kasar padaku dia berkata, “Dasar anak miskin, gak usah dekat-dekat dengan anakku.” Tanpa menolongku untuk berdiri dia langsung pergi meninggalkanku. Aku yang saat itu masih balita tidak begitu mengerti, namun Papaku yang mendengar dan melihat kejadian itu langsung menggendongku dan kulihat matanya berlinang penuh air mata.
Seminggu kemudian kami pindah ke Jakarta, tanpa meperdulikan sanak saudara papa yang kala itu terus mencaci maki. Kami berpamitan pada kakek dan nenek, lalu papa menggendongku dan pergi. Aku pandangi wajah papa kala itu yang penuh kesedihan meninggalkan tempat kelahirannya. Sadar aku terus memandanginya, papa kemudian berkata padaku dengan lirih, “Aku tak akan membiarkan siapapun menghinamu lagi.”

***

“Non...! Bangun sudah pagi! Ayo bangun!”
Terdengar suara yang sudah tak asing lagi ditelingaku. Mbok Giyem tentunya, dia selalu rajin membangunkanku setiap hari untuk tidak pernah meninggalkan solat subuh dan menyuruhku untuk selalu berangkat sekolah. Aku yang masih mengantuk mengiyakan saja ucapkannya. Hari ini aku sangat malas untuk pergi ke sekolah. Aku malas melihat wajah teman-temanku. Malas melihat mereka yang hanya mendekatiku karena aku memiliki uang, namun saat aku membutuhkan mereka, satupun tak ada yang datang padaku. Aku sangat heran, mengapa uang begitu penting hingga membuat semua orang begitu egois. Aku kesal sendiri akan hal itu.
“Arrrggg...!”, gerutuku sambil memukul Bebel, boneka beruang yang kujadikan teman dirumah ini setelah mbok Giyem.
“Ada apa Non?”, tanya mbok Giyem di depan pintu yang ternyata masih menungguku untuk bangun.
“Aku males sekolah mbok.” Jawabku dari tempat tidur.
“Jangan dong Non, nanti mbok kena marah bapak ibu kalau Non nggak mau sekolah.”
Aku hanya diam sambil berkata dalam hati, “Memangnya kapan mereka mau memarahi, bertemu aja nggak pernah.”
“Non, ayolah bangun.” Teriak mbok Giyem yang masih belum menyerah membangunkanku.
“Iya iya mbok.”, akhirnya aku menurut saja. Entahlah aku merasa tidak enak hati jika membuat mbok Giyem merasa bersalah. Karena tentunya dia orang satu-satunya yang selalu menemaniku setiap hari.

***

“Kesya...” teriak seorang pria setengah baya yang sudah tak asing lagi ditelingaku.
“Iya Pak.” Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.
“Kamu terlambat lagi? Sudah berapa kali saja ini? Selalu kamu lagi kamu lagi.”, celotehan pria itu tanpa jeda.Dia satpam sekolahku, entah sudah berapa kali aku terlambat sejak mulai pertama kali aku masuk sekolah ini hingga kini aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Dia bahkan hafal namaku, kelasku, umurku, bahkan di mana aku tinggal karena saking seringnya aku terlambat sekolah.
“Saya tidak pernah menghitungnya pak.” , jawabku sambil sedikit tertawa.
“Sekali lagi kamu terlambat, kamu akan saya laporkan kepada kepala sekolah agar diberi peringatan.”, tegasnya sambil menuding-nudingkan tongkatnya ke arah wajahku.
“Baiklah pak siap.”, jawabku sambil memberi hormat padanya. “Kalau begitu saya masuk kelas dulu ya pak?”, lanjutku tanpa meunggu jawabannya aku langsung mencoba melarikan diri.
“Eh... siapa bilang kamu boleh ke kelas?”, dengan garangnya dia menarik tasku. “Bershkan toilet!”
“Hah? Lagi? Kemarin sudah kan pak?”, keluhku kesal karena selalu saja toilet yang harus ku bersihkan.
“Dilarang protes.”, dengan angkuhnya dia kembali ke pos sambil tertawa-tawa. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Pria ini sungguh menjengkelkan.

***

Aku meninggalkan pelajaranku lagi hari ini karena harus membersihkan toilet lagi.
“Sungguh keterlaluan, memangnya aku cleaning service.”, gerutuku sambil melempar-lemparkan alat pel ke lantai. Tiba-tiba segerombolan cewek masuk, dan sudah ku tebak pasti itu adalah gene cewek onar itu. Aku langsung bersembunyi d salah satu bilik kamar mandi yang rusak.
“Aduh, rambutku makin kucel aja sih.”, kata salah seorang cewek bernama Sheril si ketua geng.
“Hahaha, kamu nggak nyalon-nyalon lagi noh sama si Kesya, kan enak tuh gratis.”, ejek Momo, salah satu cewek dari geng mereka.
“ATM berjalan kamu udah nggak mau lagi bayarin Sher? Hahaha”, ejek Rere, alah satu anggota geng yang lain.
“Resek banget kalian semua. Nggak level lah jalan sama Kesya. Dia tuh nggak punya apa-apa lagi, liat aja bentar lagi orang tua nya bakal bangkrut dan dia bakalan miskin.” Sanggah Sheril. Aku hampir saja ingin menghantam wajahnya dengan tongkat pel ini, namun ku urungkan niatku. Kemudian kulanjutkan lagi mendengarkan pembicaraan mereka.
“Maksud kamu, Kesya miskin?”, tanya Rere penasaran.
“Iya, kalian nggak tau ya, bokap nyokapnya Kesya tuh sebenernya udah bangkrut. Mereka aja ngemis-ngemis ke orang tua nya Bastian supaya bantuin mereka ngedapetin saham lagi di perusahaan.
“Kamu yakin?”, tanya Momo tidak yakin dengan ucapan Sheril.
“Ya iya lah, aku tuh dapat informasi dari orang yang sangat dapat di percaya.”, tegas Sheril. “Makannya aku ogah deh temenan lagi sama dia, masak iya aku temenan sama orang kere. Duh nggak level.” Lanjut Sheril. “Yuk ah balik kelas.”, kemudian mereka semua pergi meninggalkan toilet.  
Aku yang saat itu masih berada di balik bilik toilet tak kuasa menahan air mata, aku sama sekali tidak percaya. Ku pikir Sheril adalah teman yang baik, dulunya kami sering menghabiskan waktu bersama, main bersama, dan Sheril adalah satu-satunya sahabat terbaik yang aku miliki di sekolah ini. Namun, dengan pembicaraan yang aku dengar tadi, aku tidak percaya bahwa ternayata hanya karena uang. Aku bahkan harus membeli sebuah pertemanan dengan uang, dan ketika aku tidak memiliki uang aku tak bisa mendapatakannya lagi. Aku semakin membenci dengan adanya uang. Aku bahkan hampir kehilangan segalanya hanya karena uang, cinta keluargaku bahakan juga pertemananku. Aku benci uang!

***

Sepulang sekolah, aku langsung ke kamar dan mengunci pintu. Kudengar mbok Giyem memanggil untuk makan, namun aku sama sekali tak menghiraukannya. Ku rebahkan tubuhku di ranjang. Dengan campur aduk yang masih menyelimuti perasaanku, mata ku tertuju pada sebuah foto di meja, dengan kesal aku mengambilnya dan menghempaskannya ke lantai, foto itu adalah fotoku bersama papa dan mama. aku tak kuasa memandang foto itu, yang ada hanya amarah dan kekesalan. Lalu sesaat kemudian aku mengambil beberapa baju dan ranselku. Tanpa berpikir panjang aku pergi meninggalkan rumah. Mbok Giyem menghalangiku, terus mencoba untuk mencegah niatku. Aku sama sekali tak menghiraukannya, ku panggil pak Nanang supir di rumah ini dan dengan sigap ku ambil kunci mobil dan mengendarainya hingga hampir menabrak pintu gerbang. Kemudian aku mengendarai mobilku dengan kencang, tanpa mempedulikan mbok Giyem yang bertiak sambil menangis memanggil namaku. Aku tak peduli lagi. Aku benar-benar muak.
Awalnya aku tak tahu kemana aku akan pergi. Pandangan serta tatapanku kosong. Aku terus melaju kendaraanku. Di tengah jalan aku melihat seorang kakek duduk di pinggir jalan sesaat aku teringat akan kakekku, lalu kemudian aku menepikan mobilku. Kulihat kakek itu, dengan menatapku penuh iba, dia berdiri dan menghampiriku. Dengan tangan menengadah dia meminta beberapa uang receh untuk makan hari ini. Ku berikan beberapa lembar uang kertas lima puluh ribuan. Namun, dia malah menolaknya dan hanya meminta sedikit untuk membeli sebungkus nasi. Aku yang saat itu malah kebingungan heran melihat si kakek ini, di saat semua orang hanya memikirkan uang yang bahkan hanya untuk berfoya-foya kakek ini malah menolak ketika diberi uang lebih. Lalu kemudian aku memiliki ide untuk mengajaknya makan saja. Akhirnya dia pun mengangguk setuju. Kupersilakan kakek masuk ke mobilku, lalu ku ajak dia makan di sebuah tempat makan nasi padang. Sembari menunggu pesanan datang aku bertanya kepada kakek.
“Kakek tinggal dimana?”
“Saya tidak tahu.”, jawabnya lirih. Aku semakin kebingungan.
“Lho, lalu selama ini kakek tidur dimana?”
“Saya tidur di tempat anak saya Neng.”, dengan kalimat yang terbata-bata kakek itu menjelaskan dimana dia selama ini bermalam.
“Kalau begitu nanti saya antar kakek ke rumah anak kakek ya?”, tawarku padanya. Kakek hanya mengangguk menurut dengan ajakanku. Lalu kemudian pesanan datang dan kami makan bersama. Setelah selesai makan. Kakek memintaku untuk membungkuskan sisa makanannya untuk anaknya. Aku menolak, dan meminta pelayan membungkuskan yang baru dan lagi-lagi si kakek hanya mengangguk menurut padaku. Setelah selesai makan ku anatarkan kakek kerumah anaknya.
Begitu sampai di tempat yang disebut rumah anaknya, aku begitu tercengang. Rumah yang di maksud kakek adalah sebuah pemakaman umum. Aku hampir saja membeku karena ketakutan, lalu sepertinya kakek mengetahui ketakutanku.
“Jangan takut neng, di sini anak saya tinggal.”, jelasnya sembari menyunggingkan senyum.
“Ke..ke..kenapa di sini kek?”, tanyaku terbata-bata karena ketakutan. Tanpa menjawab pertanyaanku, kakek itu menuntunku ke arah sebuah nisan.
“Anak saya meninggal 15 tahun yang lalu.”, sambil menunjuk ke arah nisan itu.
“Lalu kenapa kakek harus tinggal di sini?”, tanyaku penuh keheranan.
“Saya ingin menemani dia, seumur hidupnya saya sama sekali tidak pernah menemaninya. Saya selalu membiarkannya sendirian, tanpa teman tanpa kasih sayang seorang ayah.”, penjelasan kakek padaku, sesaat air mataku mulai mengalir dan aku teringat papa dan mamaku.
“Saya terlalu sibuk mencari uang, saya pikir dengan uang saya bisa memberikan dia kebahagiaan.”, kemudian kakek terdiam sesaat dan ku lihat air matanya mengalir.
“Dia meninggal tepat saat menunggu saya pulang, dengan hujan yang sangat lebat malam itu dia memberanikan diri menunggu saya di luar gerbang, malam itu sudah sangat larut, petir menyambar-nyambar bersaut-sautan, saya terjebak di kantor, kemudian saya mendapat telepon bahwa putri saya kecelakan tertabrak truk yang hilang kendali di dekat daerah kawasan rumah saya.”, kemudian dia terdiam kembali.
“Saya terlambat, sesampainya di rumah sakit. Putri saya sudah meninggal.”, lalu dia menangis sembari mengusap nisan putrinya.
“Kakek yang sabar ya kek.”, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan, bibirku terasa kelu dan tercekat. Aku ingin menangis, namun tertahan.
“Satu-satunya yang saya temukan hanyalah secarik puisi yang dia buat untuk saya. Dia mengatakan dia sangat mencintai saya.”, kakek itu kemudian menangis.
“Putri kakek pasti sangat beruntung memiliki kakek. Percayalah kek, dia pasti sudah bahagia.”, ucapku sembari menepuk pundak kakek.
“Saya tidak pernah bermaksud untuk selalu meninggalkannya. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya. Namun saya salah, uang bukan lah satu-satunya cara membuatnya bahagia.”, ucap kakek sembari mengusap air matanya.
“Dia pasti mengerti kek. Untuk itu kakek harus menjalani kehidupan yang baik. Dia akan sedih kalau kakek hidup seperti ini. Apa kakek masih ingin membuatnya sedih?”, tegasku meyakinkan kakek.
“Saya hanya tidak bisa meninggalkannya sendirian lagi.”, jawabnya sambil menatapku.
“Kakek tidak pernah meninggalkannya, karena dia ada di dalam hati kakek.”, kataku sambil menunjuk hati kakek. “Dia tidak pernah sendirian, karena kakek selalu menemaninya.”, lanjutku sambil tersenyum.
Kemudian kakek menatap kembali nisan anaknya, dengan penuh kasih sayang dia mengusapnya dan menciuminya. Setelah itu kami memanjatkan doa kepada Tuhan untuk putri kakek. Dan aku mengantar kakek ke sebuah panti agar dia mendapat perawatan dan bisa hidup layak di sana. Sebelum aku pergi meninggalkan kakek, kakek meberikan aku sebuah kalung liontin milik putrinya.
“Kamu mirip sekali dengan putri saya, bawalah ini bersamamu.”, sembari memberikan liontin itu.
“Tapi kek, ini adalah sesuatu yang sangat berharga untuk kakek.”, tolakku.
“Putriku ada di sini.”, sambil menunjuk hatinya. “Tidak ada yang lebih berharga di bandingkan itu.”
Aku hanya tersenyum. Lalu aku berpamitan dan meninggalkan kakek. Ku lihat kakek lebih bahagia sekarang. Kakek memberikan aku suatu pelajaran yang sangat berharga. Lalu aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Aku melaju mobilku dengan penuh ketenangan sembari menatap liontin tersebut. Aku merasa ada sesuatu yang lebih ringan di dalam hatiku. Perasaanku terasa lebih tenang, dan satu-satunya yang ingin aku temui hanyalah papa mama.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba hujan turun sangat lebat di sertai angin kencang. Aku berencana menepikan mobilku dan menunggu hingga hujan reda, karena sudah malam. Namun belum sempat menepikan mobilku tiba-tiba ada sebuah mobil lain yang melaju sangat kencang dari arah yang berlawanan, aku terkejut dan kehilangan kendaliku.
Braakkk......
Kecelakaan itu tak dapat terhindarkan. Mobil itu menghantam mobilku hingga membuat mobilku terguling menghantam sebuah pohon besar. Di tengah-tengah kesadaranku, aku menyentuh sebuah kotak besar yang terguling dari dalam dashboard yang berisi sebuah kado dengan secarik kertas bertuliskan “SELAMAT ULANG TAHUN KESYA”. Aku sedikit teringat bahwa hari ini adalah ulang tahunku. Lalu dengan masih setengah sadar, aku menemukan secarik kertas lagi berisikan tulisan papa yang bertuliskan...

Untuk Putri Papa tercinta
Kesya...
Gadis kecil papa, kini bukan lagi seorang gadis kecil,
Kesya telah tumbuh besar dan cantik,
Namun, bagi papa mama Kesya tetaplah seorang malaikat kecil,
Dengan hanya melihat Kesya, papa selalu diberikan semangat yang luar biasa dari Tuhan,
Papa tidak pernah membiarkan Kesya sendirian,
Karena papa tau Kesya tidak suka kesepian,
papa mengerti apa yang Kesya rasakan,
Ketahuilah sayang tak ada yang lebih membahagiakan selalin melihatmu bahagia,
Setiap hari papa selalu ingin lekas pulang untuk segera melihat dan bertemu denganmu,
Walaupun pada akhirnya papa selalu terlambat dan hanya melihatmu terlelap,
Papa tau Kesya kecewa,
Namun papa tidak mampu jika harus melihatmu terhina sayang,
Papa tak mampu melihat gadis kecil papa terluka,
oleh karena itu, papa menghabiskan seluruh waktu papa untuk kebahagiaan putri papa,
walaupun pada akhirnya papa menyadari hal itu hanya melukai hati Kesya,
Papa berjanji papa tidak akan lagi mebiarkan Kesya terluka, papa akan selalu ada untuk Kesya,
Selamat Ulang Tahun Malaikat Kecilku.
Yang Tersayang
Papa

Aku tak mampu berkata apapun membaca surat papa, segalanya terasa semakin sesak dan sesaat kemudian segalanya berubah menjadi sangat gelap.

***

Kepalaku terasa berat dan begitu pening. Ku coba membuka mataku, kulihat papa tidur di sampingku sambil memegang erat tanganku. Dan kulihat di sisi lainnya ada mama. mama yang menyadari kesadaranku langsung menyentuh kedua pipiku. Seolah-olah sudah lama tak bertemu dia menciumi ku. Sembari menangis dan mengucapkan maaf berkali-kali. Papa yang saat itu mendengar isak tangis mama langsung terbangun. Dan tak berbeda halnya dengan mama, papa menciumiku sembari mengucapkan maaf. Aku hanya tersenyum.
“Sudahlah pa, ma, ini belum lebaran, minta maafnya nanti saja ya? Hehehe.”, gurauku, lalu kulihat mereka tertawa, tawa yang sudah lama tak pernah lagi ku lihat. Tawa yang sempat hilang dan kini tawa itu telah kembali.
“Kesya...mulai hari dan seterusnya, papa dan mama akan menjaga dan menemanimu.”, ucap papa sambil mengusap kepalaku.
“Lalu bagaimana dengan pekerjaan papa dan mama?”, tanyaku keheranan.
Papa hanya tersenyum, “Itu bisa di atur, asalkan bisa melihat putri papa bahagia.”
“Aku mengerti kok pa, jadi jangan mengkhawatirkan aku, jangan karena aku lalu papa harus meninggalkan pekerjaan papa.”, tegasku meminta papa memikirkan kembali ucapannya.
“Hal itu tidak lebih berharga dari pada kamu sayang. Pekerjaan, uang, harta hanya sementara, akan hilang, akan musnah.”, sembari menatap mama. “Namun, bagi kami kamu adalah harta kami yang paling berharga tak dapat digantikan maupun di beli oleh apapun bahkan dengan uang.”, lanjut mama.
Aku menangis sejadi-jadinya. Kemudian papa dan mama memeluku dengan erat. Sesuatu yang sangat aku rindukan. Aku sangat bahagia, bahkan lebih bahagia dibandingkan saat aku memiliki uang. Aku tidak akan menjadi miskin hanya karena aku tak memilki uang, namun aku akan miskin jika tanpa cinta dan kasih sayang orang tuaku. Walaupun segalanya memerlukan uang, namun uang tidak dapat membeli segalanya. Dan aku bahagia karena cinta bukan karena uang.  Cinta, kasih sayang, dan sebuah pertemanan tidak akan mampu di beli oleh uang. Uang akan musnah, namun cinta akan selalu abadi.

*TAMAT*



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen "Pilih Mana:Cinta atau Uang?" #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda